Pememang Onduline Green Roof Awards (OGRA) 2023 ASIA, telah diumumkan pada Rabu (29/11/2023) lalu. Dari 700 peserta yang mendaftar kompetisi ini, dipilih lima pemenang utama.
Pada posisi pertama, sayembara yang mengusung tema Tropical Passive Roof Design for Low Energy Houses ini ditempati oleh Tobias Kea Suksmalana dari D.I Yogyakarta dengan karya berjudul The Green Passage.
Dalam karyanya, Tobias memanfaatkan momen renovasi sebuah rumah di Kampung Laweyan, Surakarta, Jawa Tengah sebagai studi desainnya.
Baca Juga: Arsitek Indonesia Borong Gelar Juara Lomba Desain Onduline Green Roof Awards 2023 ASIA
Arsitektur tradisional menjadi prinsip dasar rancangan desain yang mengedepankan passive design dan zero energy sebagai tema besar kompetisi.
“Titik awal desain saya adalah menyeimbangkan tanggung jawab terhadap lingkungan dan melihat keseluruhan sistem yang saling terkait, baik orientasi, bentuk, dan pemilihan bahan bangunan yang disesuaikan dengan iklim mikro di Indonesia. Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk berkreasi dengan desain pasif. Salah satunya, memanfaatkan potensi energi angin dari koridor jalanan kampung yang masuk ke dalam rumah melalui jendela dan atap,” papar Sarjana Arsitektur jebolan Universitas Gajah Mada ini.
Memanfaatkan Material Bekas

Tobias mengombinasikan massa bangunan dan detail arsitektur secara seksama untuk memastikan adanya ventilasi silang di dalam rumah.
Sentuhan material kayu bekas pada struktur tiang dan atap rumah tak hanya melugaskan kesan rumah adat masa lampau, namun juga menghadirkan sirkulasi udara yang baik dan menciptakan privasi penghuni.
Baca Juga: 5 Cara Membuat Rumah Lebih Sejuk Saat Cuaca Panas
“Dengan menggunakan material kayu bekas tersebut kita dapat menghemat sekitar 50-70 persen biaya material kayu. Genteng tanah liat bekas juga bisa dikreasikan sebagai finishing lantai. Selain dari aspek biaya, penggunaan material ini juga merupakan upaya pengurangan emisi karbon,” jelasnya.
Lantai loteng pada area atap berfungsi sebagai instalasi pengolahan air hujan. Air hujan yang ditampung melalui talang atap akan disaring terlebih dahulu sebelum disimpan dan digunakan.
“Air hujan yang telah diolah bisa digunakan untuk berkebun dan menyuplai air ke kolam ikan. Kelebihan air dialirkan ke sumur resapan dan sistem drain perancis yang terletak di sekeliling bangunan,” imbuhnya.
Atas pencapaiannya tersebut, pria kelahiran 1990 ini mendapatkan hadiah uang tunai USD 3,300 setara Rp52 jutaan (kurs 15,800), tropi Juara 1 dan akan diundang sebagai pembicara di sejumlah kegiatan Onduline Indonesia.
