Kebakaran terjadi di Jalan Fatmawati Raya dekat dengan Stasiun MRT Cipete Raya, Jakarta Selatan. Api yang melahap sejumlah ruko ini berhasil dipadamkan pukul 02.50 WIB yang sebelumnya membesar mulai dari 23.39 WIB.
Menurut saksi mata, api yang menghanguskan lebih dari 10 warung makan ini, berasal dari korsleting listrik.
Baca Juga: Schneider Electric Tegaskan Komitmen Bangunan Berkelanjutan Pada Innovation Day Bali 2025
Kebakaran Cipete menjadi salah satu kebakaran yang terjadi karena korsleting listrik. Berdasarkan data dari Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Provinsi DKI Jakarta, sepanjang periode 2024, dari total 1.969 kejadian kebakaran, terdapat 61,12 persen atau 1.204 kejadian yang disebabkan oleh korsleting listrik.
Perencanaan Kelistrikan Pada Awal Bangunan
Melihat banyaknya kasus kebakaran yang disebabkan oleh korsleting listrik, Ir. Hanat Hamidi, Koordinator Standardisasi Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral; I Wayan Agus Novi Darmawan, Ketua Ikatan Arsitek Indonesia Bali; serta Christian Sugiono, Chief of Sugi Group, menjelaskan betapa pentingnya integrasi sistem kelistrikan yang aman dan handal.
Diskusi yang dilakukan dalam acara Innovation Day Bali 2025 oleh Schneider Indonesia ini, menjelaskan jika betapa pentingnya tenaga ahli yang berkompeten, desain yang memenuhi standar, dan kolaborasi lintas sektor yang terkait.
Baca Juga: Tips Menghemat Listrik Kulkas di Rumah, Jangan Biarkan Kulkas Kotor!
Lebih lanjut, dilansir dari The Spruce, ada beberapa penyebab terjadinya korsleting listrik, antara lain:
- Kabel yang terputus karena hama
- Air atau cairan lain yang bersentuhan dengan kabel listrik
- Sambungan longgar di kotak listrik
- Stopkontak , sakelar, lampu, peralatan, atau perangkat listrik lainnya yang sudah tua atau rusak
- Paku atau sekrup yang menembus dinding dan bersentuhan dengan kabel
- Kerusakan selubung kabel listrik
- Penumpukan atau lonjakan listrik
Kenali Tanda Penyebab Korsleting Listrik
Selain perencanaan pembangunan dari awal, pemilik rumah juga harus mengetahui tanda korsleting listrik dengan memeriksa bagian luar setiap perangkat di sirkuit listrik.
Hal pertama yang harus dilakukan adalah identifikasi semua perangkat pada sirkuit, termasuk stopkontak, sakelar, peralatan, lampu, AC, dan banyak lagi—bahkan kotak sambungan.
Baca Juga: Ribuan Bangunan Terbakar Disebabkan Korsleting Listrik, Ini Solusi dari Schneider Electric
Biasanya, sekring yang putus pada masing-masing perangkat memiliki tanda, yakni bau menyengat, plastik meleleh, atau bekas terbakar. Jika terdapat tanda tersebut, sebaiknya ganti perangkat yang lebih baru.
Selain itu, pemilik rumah juga bisa menggunakan perangkat listrik yang dirancang khusus untuk mencegah risiko kesetrum, salah satunya RCCB Domae dari Schneider Electric.
Baca Juga: Edukasi Jutaan Masyarakat Melalui Gerakan Listrik Aman, Schneider Electric Berhasil Raih Rekor MURI
Perangkat ini akan bekerja dengan mendeteksi kebocoran arus listrik. Fitur utamanya meliputi sensitivitas 30 mA untuk perlindungan manusia terhadap risiko keseterum. Kemudian, sensitivitas 300mA untuk melindungi aset atau mesin dari kerusakan akibat kebocoran listrik.
Tak hanya itu, RCCB Domae juga dilengkapi dengan tombol pengujian untuk memastikan perangkat berfungsi secara optimal. Indikasi visualnya berupa tuas berwarna oranye yang akan turun (off) setelah tombol test ditekan menandakan bahwa GPAS bekerja dengan baik.
Yang harus diperhatikan adalah instalasi GPAS Domae hanya boleh dilakukan oleh instalatur listrik bersertifikat dan harus dipastikan terpasang grounding pada instalasi listrik rumah.
