Desain rumah bioklimatik menjadi cara yang dianggap efektif dalam menanggapi perubahan iklim di dunia ini. Namun, sebenarnya apa yang dimaksud dengan desain rumah bioklimatik?
Mengutip dari Jurnal Jurnal ilmiah Arjouna (Architecture and Environment Journal of Krisnadwipayana)
yang diterbitkan oleh Fakultas Teknik Universitas Krisnadwipayana Program Studi Arsitektur, arsitektur bioklimatik adalah seni merancang bangunan dengan metode hemat energi.
Baca Juga: Manfaatkan Material Bekas, Tobias Raih Juara 1 OGRA 2023 Asia
Desain ini lebih memerhatikan iklim setempat dan memecahkan masalah iklim dengan menerapkannya dalam elemen bangunan. Arsitektur ini juga merupakan cabang dari arsitektur hijau (Green Architecture) yang diterapkan dalam kota.
Baca Juga: Arsitek Indonesia Borong Gelar Juara Lomba Desain Onduline Green Roof Awards 2023 ASIA
Gaya desain ini mengedepankan sistem alami bagi kebutuhan ventilasi dan pencahayaan bangunan. Secara umum, gaya arsitektur ini memiliki beberapa prinsip yakni meminimalkan ketergantungan pada sumber energi yang tidak dapat diperbaharui.
Kemudian, penghematan energi dari segi dan bentuk bangunan dan pemilihan material, serta mengikuti pengaruh budaya setempat.
Penerapan Desain Rumah Bioklimatik Pada Hunian

Sementara itu, untuk menerapkan pada rumah tinggal, dilansir dari laman ugreen.io, ada beberapa hal yang harus dilakukan, seperti berikut ini.
1. Analisis Lokal
Sebelum merancang bangunan bioklimatik, penting untuk melakukan analisis lokasi untuk menentukan iklim lokal dan lingkungan sekitar.
Baca Juga: 5 Warna Cat Rumah yang Membuat Ruangan Lebih Sejuk
Analisis ini dapat menentukan orientasi terbaik untuk bangunan, bahan yang paling sesuai untuk konstruksi, serta letak jendela dan bukaan lainnya untuk memaksimalkan cahaya dan ventilasi alami.
2. Ventilasi Alami
Ventilasi alami merupakan komponen penting dari desain bioklimatik. Bangunan harus dirancang untuk memanfaatkan penghawaan alami, seperti melalui ventilasi silang.
Baca Juga: 5 Cara Membuat Rumah Lebih Sejuk Saat Cuaca Panas
Desainnya juga harus mempertimbangkan penggunaan perangkat peneduh, seperti kisi-kisi atau panel, untuk mengontrol jumlah sinar matahari yang masuk ke dalam bangunan.
3. Orientasi Bangunan
Orientasi bangunan sangat penting dalam desain bioklimatik. Bangunan hendaknya berorientasi pada pemanfaatan sumber daya alam seperti sinar matahari, angin, dan hujan.
Misalnya, di belahan bumi utara, bangunan harus berorientasi ke selatan untuk memaksimalkan paparan sinar matahari selama musim dingin.
4. Penggunaan Cahaya Alami di Hunian
Ini melibatkan dalam penggunaan cahaya alami dan panas dari matahari untuk memberikan pemanas pada bangunan.
Baca Juga: 4 Model Pintu Kaca Rumah Depan dan Tips Memasangnya
Hal ini dapat dicapai dengan menggunakan jendela besar dan skylight yang memungkinkan sinar matahari masuk ke dalam bangunan. Desainnya juga harus mempertimbangkan naungan jendela dan penggunaan insulasi untuk mencegah panas berlebih.
5. Bahan
Bahan yang digunakan untuk membangun bangunan bioklimatik harus dipilih karena sifat keberlanjutan dan efisiensi energinya.
Selain itu, penggunaan bahan daur ulang dan penggabungan atap dan dinding ramah lingkungan dapat membantu meningkatkan kelestarian lingkungan bangunan.
