Tahun ini, pameran internasional IFFINA+ 2025 hadir kembali Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang 17-20 September 2025.
Menghadirkan ragam karya pelaku industri furnitur dan desain, IFFINA juga menampilkan Design Talks yang menjadi ruang diskusi.
Baca Juga: Hadir di IIPE Expo 2025, Royal Canin Angkat Tema Pentingnya Nutrisi Hewan Peliharaan
Salah satu yang menjadi pembahasan dalam Design Talks tahun ini adalah American Hardwood Export Council (AHEC) yang melakukan kolaborasi perdananya bersama desainer Indonesia Hendro Hadinata, Founder Studio Hendro Hadinata.
Menampilkan Rasa Indonesia

Dalam kolaborasinya, terlahir proyek eksperimental bertajuk Karana dengan mengeksplorasi berbagai macam kayu di Amerika, mulai dari red oak, mample, dan cherry.
Menurut Hendro, jenis kayu tersebut kurang dimanfaatkan di Asia Tenggara, padahal kayu-kayu itu memiliki karakteristik yang unik.
Baca Juga: Bosch Indonesia Jalankan Ragam Program Keberlanjutan 2024
“Jenis kayunya banyak sekali, namun yang di-eksplore untuk proyek ini, dua jenis kayu. Mulai dari cherry wood yang memiliki karakteristik memiliki tekstur dan red oak yang memiliki pori-pori lebih besar,” ungkap Hendro.
Baca Juga: 3 Keterbatasan Material Marmer yang Harus Diketahui!
Dengan kolaborasi ini, Hendro menjelaskan jika Indonesia bisa memperlihatkan desain khasnya ke dunia. “Kayu dari mereka biasanya ada di Millan Design Week, namun desainer lokal bisa mengolah juga, sehingga suatu saat mereka bisa lihat material yang familiar dengan desain yang berbeda,” ujarnya.
Produk yang Keberlanjutan

Selain menampilkan desain lokal, dalam proyek ini, Hendro juga berupaya menunjukkan bahwa material internasional yang berkelanjutan dapat bersinergi dengan filosofi desain lokal.
Berkelanjutan yang dimaksud adalah meminimalisir dampak negatif ke lingkungan, salah satunya dengan memanen kayu dengan waktu yang tepat.
Baca Juga: Astra Property Tanam 500 Bibit Mangrove di Pulau Pramuka
“Sebenarnya kayu jati Indonesia merupakan kayu terbaik, namun dipanen dengan waktu yang tidak pas, yakni kurang dari 80 tahun, sehingga tidak memberikan hasil yang terbaik,” ungkapnya.
Bukan hanya sekadar waktu memanen saja, Hendro menjelaskan kayu yang dipanen tepat waktu akan memberikan hasil terbaik, sehingga produknya akan lebih awet berpuluh-puluh tahun.
Baca Juga: Bosch Indonesia Jalankan Ragam Program Keberlanjutan 2024
Lebih lanjut, AHEC tidak hanya fokus pada promosi kayu Amerika dari sisi estetika dan fungsional. Tetapi juga pada riset ilmiah terkait dampak lingkungan.
Salah satu kontribusi penting AHEC adalah penerapan Life Cycle Assessment (LCA) untuk mengukur jejak karbon furnitur berbasis American Hardwood secara menyeluruh, mulai dari panen, pengolahan, hingga distribusi.
Harmoni Antara Manusia, Alam, dan Spiritualistas

Koleksi Karana terdiri dari tiga karya utama, yakni Kuta Bench, Sanur Lounge Chair, dan Ubud Light. Ketiga merupakan inspirasi dari filosofi Bali Tri Hita Karana tentang harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas serta karya pematung Ida Bagus Nyana pada era 1930-an.
Dengan penggunaan American red oak yang dikenal dengan kekuatan, ketahanan, dan pola serta terbuka dengan rona merah muda hangat, Hendro ingin menampilkan desain berakar budaya lokal.
Baca Juga: Desain Rumah Bioklimatik Lebih Hemat Energi? Ini Cara Penerapannya!
Sementara itu, penggunaan American Cherry dengan tekstur halus dan warna coklat kemerahan yang semakin dalam seiring waktu.
Sehingga, memungkinkan Hendro menciptakan lengkungan skulptural ekspresif tanpa kehilangan karakter alami kayu. Kemudian, untuk proses produksinya, Hendro berkolaborasi dengan manufaktur lokal Omega Mas.
Baca Juga: 4 Pilihan Kursi Kayu Untuk Ruang Tamu Minimalis dan Cara Merawatnya
Selain menampilkan kolaborasi dengan Hendro, hadir Dennis Pluemer, Founder Santai Furniture yang dikenal konsisten dengan praktik furnitur berkelanjutan.
“Konsumen kini semakin peduli pada dampak lingkungan. Material seperti American Hardwood, yang berasal dari hutan dikelola berkelanjutan dan tumbuh lebih cepat daripada ditebang.
Ini memberi opsi penting untuk menjawab permintaan furnitur ramah lingkungan di pasar lokal maupun global,” ungkapnya.
