Permasalahan sampah di Indonesia menjadi salah satu hal yang patut diperhatikan oleh semua kalangan, termasuk penghuni rumah.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutan (KLHK) mencatat sebanyak 60 persen sampah TPA merupakan sampah organik dengan setiap orang dapat menghasilkan 1,3 juta ton sampah makanan per tahun.
Baca Juga: Berkonsep Hunian Ramah Lingkungan, Ini Klaster Pertama Altea BLVD Rivara!
Dilansir dari laman Waste 4Change, laporan Economic Intelligence Unit (EIU) 2016, menyatakan bahwa Indonesia menempati posisi ketiga sebagai negara penghasil sampah makanan setelah Amerika Serikat dan Arab Saudi.
Bagaimana Cara Mengolah Sampah Organik Rumah Tangga?

Pada kenyataannya, permasalahan sampah harus diselesaikan dari penghuni rumah sebagai orang pertama pembuang sampah. Untuk mengolah sampah ini, sebenarnya ada beberapa cara seperti yang dikutip dari Waste 4Change.
1. Gunakan Lubang Biopori
Hal pertama yang bisa dilakukan menanggulangi sampah ini adalah dengan menggunakan lubang biopori.
Selain efektif untuk mengelola sampah jenis ini, lubang biopori juga bermanfaat memberi nutrisi bagi biota tanah yang ada di dalamnya.
Baca Juga: Kampanye Earth Life Matters, Wujud Inisiatif Keberlanjutan Astra Property Terhadap Lingkungan
Selain itu, lubang biopori juga berfungsi menjadi sumber resapan untuk menghindari banjir atau genangan air.
2. Buat Eco Enzyme
Biasanya, setelah mengupas sayur dan buah, potongan kulitnya akan langsung dibuang ke tempat sampah, padahal ini bisa dimanfaatkan kembali.
Membuat eco enzyme hanya memerlukan alat sederhana seperti botol plastik bekas, sampah organik, gula merah, serta air.
Nantinya, ini akan memiliki banyak manfaat seperti dapat mengobati tanah atau dapat ditambahkan ke produk pembersih rumah tangga seperti pembersih toilet, cairan pembersih dapur, dan lainnya.
Untuk mendapatkan cairan fermentasi ini, kalian harus melewati prosesnya selama tiga bulan.
3. Menyetor Sampah
Beberapa pihak kini menyediakan layanan pengelolaan sampah jenis ini untuk dimanfaatkan, salah satunya Waste4Change.
Layanan berupa pengelolaan sampah organik sebagai pakan lalat jenis Black Soldier Fly (BSF). Lalat BSF selain bermanfaat dalam pengelolaan sampah organik juga dapat dimanfaatkan menjadi pakan ternak.
Baca Juga: Seperti Apa Desain Rumah 2050? Ini Kata Desainer Interior!
Selain itu, disediakan juga pengelolaan sampah organik yang akan dijadikan kompos. Bahkan ke depannya akan ada pengelolahan sampah organik menjadi biogas sebagai bahan bakar alternatif pengganti bahan bakar gas yang digunakan untuk memasak.
