Kucing diare terus menerus menjadi tanda kesehatannya tidak baik, sehingga harus segera diobati. Meski kucing termasuk hewan peliharaan yang pintar menyembunyikan rasa sakit yang sedang dideritanya, tanda-tanda masalah kesehatan seperti diare harus segera ditangani.
Diare pada kucing merupakan pertanda beberapa penyakit yang dideritanya. Penyebabnya bisa berbahaya hingga mematikan.
Dilansir dari PetMd, anak kucing, kucing dewasa, atau yang sudah tua bisa mengalami risiko kematian yang tinggi jika mengalami komplikasi diare yang tidak diobati.
Baca juga: 7 Ciri-Ciri Kucing Sakit yang Patut Diketahui
Konsistensi kotoran kucing menunjukkan tingkat keparahannya. Diare dengan kotoran cair termasuk mengkhawatirkan karena dapat menyebabkan hewan dehidrasi dan kekurangan gizi dengan cepat.
Sementara itu, kotoran kucing yang lunak umumnya tidak terlalu parah namun harus tetap diperiksa oleh dokter hewan.
Kucing Diare Terus Menerus, Apa Penyebabnya?

Diare kucing bisa akut atau kronis tergantung penyebabnya. Lantas, mengapa kucing diare terus menerus?
Akut artinya diare terjadi secara tiba-tiba atau tidak berlangsung lama. Diare kronis ditandai dengan diare yang berlangsung selama dua hingga tiga minggu atau lebih.
Diare Akut pada Kucing
Ada enam kategori utama penyebab diare akut pada kucing, antara lain menular (parasit, protozoa, bakteri, jamur atau virus), peradangan (alergi makanan), metabolik atau endokrin (diabetes atau hipertiroidisme), bersifat kanker, atau racun.
Baca juga: 6 Makanan yang Tidak Boleh Diberikan Pada Kucing, Salah Satunya Produk Susu!
Perlakuan atau perubahan pola makan secara tiba-tiba juga dapat menyebabkan diare pada kucing.
Penting untuk memastikan bahwa produk yang diberikan kepada kucing diperiksa dengan cermat dan diperkenalkan secara perlahan.
Camilan atau makanan baru (kalengan atau kering) dapat menyebabkan diare jika terkontaminasi, diperkenalkan secara tiba-tiba, mengandung bahan-bahan yang beracun bagi kucing, atau mengandung bahan-bahan yang membuat kucing alergi.
Diare Kronis pada Kucing

Ada pun beberapa penyebab diare kronis pada kucing, antara lain infeksi yang resisten, penyakit radang kronis, penyakit metobolik atau endokrin yang tidak ditangani dengan baik, penyakit bawaan, atau kanker.
Diare kronis menjadi perhatian khusus karena dapat menyebabkan komplikasi yang mengancam jiwa.
Diare yang berlangsung lama namun resisten terhadap pengobatan sering kali disebabkan oleh multifaktorial, sehingga diperlukan beberapa pengobatan agar dapat sembuh total.
Baca juga: Mengapa Kucing Suka Minum Air di Kloset? Ini Penjelasan dan Bahayanya
Jika tidak ada perubahan yang terlihat pada diare kucing dalam dua hingga tiga hari setelah memulai terapi, harus dilakukan pemeriksaan kemungkinan faktor komplikasi.
Diare Merah atau Berdarah pada Kucing
Diare berdarah selalu mengkhawatirkan dan harus ditangani oleh dokter hewan sesegera mungkin.
Perubahan warna feses menjadi merah tua atau hitam menandakan adanya perdarahan saluran cerna bagian atas dan pencernaan darah.
Baca juga: Ginger Cat Appreciation Day: Hari Peringatan Kucing Oren Sedunia, Ini 6 Fakta Menariknya!
Warna merah cerah pada feses atau lapisan feses merupakan tanda adanya perdarahan saluran cerna bagian bawah. Kotoran yang dilapisi lendir menunjukkan kemungkinan dehidrasi atau infeksi parasit.
Diare Kuning atau Hijau pada Kucing
Kotoran yang berubah warna terkadang disebabkan oleh sesuatu yang baru saja ditelan kucing.
Misalnya, rumput atau bahan berwarna hijau dapat menyebabkan perubahan warna menjadi hijau, yang tidak selalu menjadi masalah medis, meskipun beberapa hewan dengan kotoran berwarna hijau menderita penyakit kandung empedu.
Kotoran berwarna kuning bisa menjadi keadaan darurat yang berhubungan dengan penyakit atau kegagalan hati, keracunan seng, anemia hemolitik yang dimediasi kekebalan, atau pertumbuhan berlebih bakteri patogen tertentu.
Baca artikel menarik lainnya di homeloving.id
